Categories
Agraria

Dean Novel, Bertekad Menjadi Agropreneur

Melakukan babat alas di hu tan Sumatera, Kaliman tan, sampai Papua hingga berujung pada penculikan dan penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pernah dilaluinya saat mengembangkan agribisnis “emas pipilan”. Seolah tidak kapok, pria bernama lengkap Dean Novel itu justru menjalankan corporate farming jagung di Lombok Timur, NTB yang sudah berjalan sejak 2014.

Menggunakan bendera PT Dhanya Perbawa Pradhikasa, Dean, sapaannya, mampu memproduksi jagung pipilan kering sebanyak 15 ribu-16 ribu ton setahun dengan menggandeng petani mitra di sekitar Lombok Timur. Pada 2018, Dean yakin produksi emas pipilannya akan menembus 20 ribu-22 ribu ton per tahun. Ma ri simak kisah seru pegiat agribisnis jagung ini dalam perbincangannya bersama AGRINA.

Awal Merintis

Dean mengawali kiprah di dunia agribisnis saat mencoba investasi pada bisnis pupuk organik di Cianjur, Jabar, akhir 2005. Pupuk organik dijual ke perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara dan petani hortikultura di sekitar Cianjur. Selain itu, pria kelahiran Jakarta, 24 November 1974 ini juga mendistribusikan sayuran, seperti wortel, lobak, dan tomat ke restoran cepat saji.

“Capek bisnis gituan ternyata. Jam 4 subuh kerjanya. Ya siang sudah tidur sih. Dunianya dibalik,” dia terkekeh mengenang masa lalu. Setahun bergelut bisnis pupuk, Dean melebarkan sayap ke penjualan beras yang dibeli dari Pasar Induk Cipinang, Jakarta. “Saya punya outlet beras yang literan di daerah kumuh Jakarta.

Lumayan untungnya konversi dari liter ke kg,” katanya. Saat itu dia bercita-cita menjual beras menggunakan gerobak sepeda seperti penjualan roti keliling merek terkenal. Dalam perjalanan, Dean mengusulkan jual-beli beras dengan sistem lelang agar setiap pedagang bisa mendapat beras dan harga jual yang sama.

Sebab, akses membeli beras hanya dimiliki pedagang tertentu. “Beras dari daerah saya minta lelang di lapangan. Kalau cocok harga, baru dibongkar jadi biar fair (adil). Ada yang du kung, ada yang musuhin,” ulasnya tertawa. Konsep lelang dan tesis tentang resi gudang yang dibuat saat menuntaskan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Pancasila, Jakarta, mempertemukan Dean dengan pengusaha yang tertarik skema bisnis beras daring (online).

Akhirnya, terbentuk PT iPasar Indonesia yang mengembangkan lelang pasar fisik komoditas dan menginformasikan harga komoditas secara real time melalui website. “Idenya dari iPhone. Jadi iPasar. Pema saran secara online,” imbuh Direktur iPasar pe riode 2008-2012 itu.

Diculik di NTB

Melalui iPasar, Dean memperluas perdagangan serta kemitraan jagung ke berbagai daerah, salah satunya Lombok. Banyak suka-duka yang dialami konsultan agribisnis jagung ini selama di NTB, mulai dari ditipu, merugi, hingga diculik. Sangat melekat dalam ingatan, ia dan seorang anak buah diculik pedagang jagung di pulau tempat berdiamnya Suku Sasak itu pada 2009.

“Satu hari satu malam saya nggak dipulangin. Dibawa ke mobilnya, keliling. Ya Allah, ini ke mana? Saya ‘kan baru pertama kali di situ,” Dean mengisahkan pengalaman yang menegangkan. Dean dijemput baikbaik dari hotel. Tak diduga, dia malah diculik.

Sepanjang perjalanan, ia diinterogasi beragam pertanyaan tentang maksud dan tujuan ke Lombok. Penculik itu tidak terima Dean ikut campur pembelian jagung di w i l a y a h mereka. “Alhamdulillah nggak diapa-apain. Kalau rugi uang karena ditipu terus dibohongin, itu masih bisa dilupain. Tapi kalau yang diculik, saya nggak bisa lupa, pribadi itu,” kisahnya seraya terbahak.

Namun anehnya, penculik itu kini justru jadi teman baik. Kejadian ini membuatnya bertekad men jadikan NTB, khususnya Lombok sebagai pusat kegiatan corporate farming. “Ka rena saya ditipu pertama kali di situ soal jagung. Dibohongin orang di situ, rugi di situ. Berkesan banget deh. Jadi kalau saya pilih daerah lain, secara pribadi berarti saya kalah sama mereka,” paparnya penuh semangat.

Di pulau eksotik itu juga Dean sempat menghadapi pemeriksaan dari kejaksaan dan KPK karena tuduhan gratifikasi ke Bupati. Pasalnya, iPasar membantu pemda membangun infrastruktur jaringan listrik dengan dana pinjaman. Hal itu dilakukan lantaran pemda tidak punya anggaran dan dana pinjaman pun sudah dikembalikan 6 bulan kemudian.

“Diperiksa saya karena saya Dirutnya, saya yang tanda tangan. Sebulan nggak nafsu makan. Stres saya,” lanjut pria yang keliling Indonesia untuk menanam jagung dengan wajah mengernyit.

Bersama SIMI dan Bermitra

Petualangan Dean berlanjut bersama PT Saudi Indonesia Multi Investment (SIMI) sebagai konsultan. SIMI membangun kemitraan jagung di Gorontalo menggunakan lahan HGU. Kegiatan olah lahan dan panen jagung menerapkan mekanisasi. Sayangnya, perusahaan PMA asal Arab Saudi yang beroperasi sejak 2009 ini terganjal aturan baru, Permentan No. 39/ 2010 tentang Pedoman Perizinan Usaha Bu di daya Tanaman Pangan.

Aturan ini membatasi kepemilikan modal asing paling banyak 49%. Setelah izin usaha sementara habis pada 2011, SIMI tidak memperoleh rekomendasi izin usaha dalam jangka waktu tertentu. “Posisi saham 95% asing, 5% lokal. Gimana mungkin nyulap akta dan perizinan jadi 49% kalau nggak dikasih izin dulu.

Nawarin saham ke pribumi juga nggak gampang. Investasi SIMI US$5 juta. Kami harus jual 51%, sekitar US$3,5 juta,” bebernya. Padahal, saat itu ada pengusaha lokal yang berminat investasi dan tinggal menunggu perizinan. SIMI pun resmi ditutup pada 2014. Dari sinilah Dean mengantongi bekal mendirikan bendera usaha sendiri dan membentuk corporate farming berbasis di NTB.

“Akhirnya tekadlah. Susah-senang, jadi agropreneur. Nggak gampang, berat. Jadi petani, agropreneur di Indonesia berat. Modal sendiri berat,” tandasnya. Meski begitu, luas kemitraannya di NTB saja seki tar 7.900 ha, belum termasuk daerah-daerah lain seluruh Indonesia. Menjalankan corporate farming, Dean mensyaratkan petani memiliki lahan sendiri atau lahan keluarga dan membuat perjanjian kemitraan.

Setelahnya, petani akan memperoleh pinjaman benih, pupuk dan pestisida, biaya panen, serta pendampingan. “Perjanjian kemitraan kami bacakan dari awal sampai akhir. Petani harus tahu apa yang dia tanda tangan. Harus paham. Wajib. Karena ini tanpa bunga,” jelasnya. Pria yang juga menggarap lahan jagung pribadi seluas 2 ha ini akan membeli jagung petani dengan harga kesepakatan berdasarkan harga pasar.

Seminggu sebelum panen, Dean berembuk dengan petani untuk menentukan harga jual. “Alhamdulillah kemitraan saya sudah hampir jalan 5 tahun ini smooth (lancar). Kalau ada yang tidak perform, 2%-an. Dan itu yang laporin petani sendiri kalau temannya begini, begitu,” pungkasnya semringah.