Categories
Default

Industri unggas kita terancam dari dalam dan luar negeri.

Akibat H9N2

Peternak layer, sambung Robby, menyebut penu – runan produksi yang terjadi dengan istilah ‘90-40’. Alasannya, rata-rata terjadi penurunan produksi dari 90% menjadi sekitar 40%. Kasus ini pun dirasa pe – ternak merupakan hal yang baru karena tidak ada ge jala yang tampak jelas. Yang terjadi hanya penu – runan produksi dan nafsu makan. “Baik TS (Technical Service) maupun peternak kurang tahu ini penyakit apa, karena kasus ini memang baru dan mi nim informasi,” cetusnya.

Fadjar mengamini adanya H9N2 yang me – nurunkan produksi. Kendati demikian, keber – adaan virus tersebut bisa jadi tidak sendirian di lapangan. Infeksi dipercayainya bercampur de – ngan virus ataupun penyakit lainnya se hing ga dampak di lapangan menjadi bervariasi.

“Saya ke Tabanan, Bali, ada yang menun – jukkan gangguan walaupun tidak ada kema – tian. Dari dua tempat, satu belum naik lagi (produksinya), satunya sudah 80%. Kemarin turun sampai 42% terus naik lagi dalam waktu tiga minggu. Memang bervariasi,” ulas man – tan Kepala Balai Besar Veteriner Wates, Yog – yakarta ini meyakinkan.

Indi membenarkan hal itu. Sebagai lembaga penelitian, lanjut doktor biomedik lulusan FKUI ini, BB Livet segera mengisolasi kemu di – an mengidentifikasi virus tersebut. BB Livet melaku kan pengujian Postulat Koch untuk menge – tahui apakah benar H9N2 dapat menyebabkan penu runan produksi telur. Hasilnya, H9N2 dapat menu runkan produksi telur yang cukup berarti, bisa sam pai ke level 30% setelah tujuh hari infeksi.

“Kita tantang di ayam SPF (Specific Pathogen Free) dan itu yang terjadi untuk (membuktikan) Postulat Koch. Virus itu tunggal bisa menurunkan, belum lagi yang di lapangan. Biasanya terjadi koinfeksi juga,” jelas ahli virologi itu.

Sudah ada di Indonesia

LPAI di Indonesia telah ada semenjak 1980-an. Me – nurut Indi, BB Livet sudah mengidentifikasi bebe – rapa isolat LPAI bersubtipe H4N4, H3N8, dan H10N8. Virus AI termasuk mudah bermutasi dan mengalami modifikasi genetik. Bahkan pada 2013, lanjut dia, ditemukan virus AI yang tengah mengalami reassortment. Di permu – ka an terserang HPAI, tetapi di dalamnya juga terda – pat LPAI. Ia memastikan virus LPAI memang sudah ada di Indonesia. Namun penelitian terkait LPAI yang berdampak pada kerugian ekonomi jarang di lakukan karena saat itu lebih berfokus ke penu – lar an virus LPAI dan HPAI yang mengalami percampuran ke manusia. Indi menerangkan, H9N2 merupakan virus pe – nyumbang bagi reassortant. Ia mencontohkan, virus H5N1 di Guangdong, China, mengandung internal gen virus H9N2. Begitu pun virus H7N9 yang saat ini bisa menyebabkan kematian pada manusia, internal gennya juga dari H9N2. Indi menandaskan, keragaman virus AI di Indo – nesia telah berkembang secara dinamis. Ditemu – kan virus HPAI H5N1 yang mengalami mutasi seperti antigenic drift dan antigenic shift. BB Livet mengidentifikasi adanya virus H5N1 yang telah mengalami reassortment(kawin) dengan virus LPAI.