Categories
Agraria

Kontribusi Sawit Rakyat Terhadap Perekonomian Nasional

“HADIRNYA perkebunan kelapa sawit rakyat menjadi lokomotif pembangunan ekonomi pedesaan. Dampak lainnya, industri ini menyerap tenaga kerja terbanyak, jadi sumber pertumbuhan PDB, dan mengurangi kemiskinan.

Petani kecil akan menjadi kunci dalam industri sawit kita di masa depan,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA. Bagaimana perkembangan perkebunan sawit rakyat kita? Dalam beberapa tahun terakhir, industri minyak sawit kita menjadi topik menarik bagi masyarakat dunia karena perkembangannya sangat cepat.

Seiring pula dengan perubahan pasar global, persaingan minyak nabati serta berbagai masalah sosial ekonomi dan lingkungan muncul terkait industri kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit rakyat di Indonesia merupakan salah satu pendorong utama pengembangan perkebunan sawit secara keseluruhan. Sebelum 1980- an, perkembangan perkebunan sawit di Indonesia relatif lamban.

Namun dengan merebaknya perkebun an sawit rakyat, Indonesia akhirnya menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Hal ini telah mengubah perkembangan daerah pedesaan kita. Sebelum 1980, petani kecil belum masuk ke bisnis sawit. Mereka menghadapi berbagai kendala, seperti akses pasar, keterbatasan modal, dan rendahnya keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola perkebunan sawit.

Pengembangan perkebunan sawit dipercepat dengan munculnya model pembangunan kemitraan sebagai bentuk sinergi antara petani dan perusahaan, seperti yang telah dilakukan Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Keberhasilan PIR (PIR I-IV), diikuti oleh SPES Khusus dan Lokal (1980-1985), Transmigrasi PIR (1986- 1995), KPPA PIR (1996), dan Revitalisasi Kemitraan (2006).

Melalui pengembangan model kemitraan, area sawit kita meningkat dari sekitar 300 ribu ha pada 1980 menjadi sekitar 11,6 juta ha pada 2016. Demikian juga areal perkebunan rakyat yang awalnya hanya sekitar 3.275 ha pada 1990 menjadi 1,2 juta ha pada 2000. Dalam 15 tahun berikutnya, area kebun sawit petani SUARA AGRIBISNIS Bungaran Saragih kecil sudah mencapai 4 juta ha.

Produksi CPO pun meningkat dari sekitar 700 ribu ton menjadi 35 juta ton pada periode yang sama. Pesatnya pertumbuhan produksi CPO Indonesia membawa kita menjadi produsen CPO terbesar di dunia sejak 2006 dengan pangsa pasar mencapai 54%. Sedangkan Malaysia berada di posisi kedua dengan pangsa 32%.

Bagaimana kontribusi sawit rakyat dan tantangan ke depannya? Model kemitraan dapat menjadi dorongan yang menarik bagi investasi sektor lainnya. Ini juga merupakan bagian dari pembangunan pertanian dan pembangunan daerah.

Pertumbuhan produksi sawit memiliki keterkaitan yang kuat dan menciptakan efek berganda ke sumber daya lokal berbasis output, nilai tambah, pendapatan dan tenaga kerja. Meningkatkan produksi CPO dapat menciptakan kenaikan ekonomi sekitar 60% di perkebunan sawit dan 40% di luar perkebunan sawit seperti lembaga keuangan, hotel, restoran, transportasi, infrastruktur, pertanian, perikanan, peternakan dan sektor lainnya.

Jadi, manfaat ekonomi yang ditimbulkan perkebunan sawit tidak hanya dinikmati orang-orang perkebunan itu sendiri, tetapi juga di luarnya. Menjelang 2030 pangsa perkebun an rak yat diproyeksikan akan meningkat menjadi 60% dari total luas kebun sawit nasional. Karena itu, masa depan perkebunan sawit Indonesia terletak pada petani kecil.

Namun demikian, perkebunan kelapa sawit kecil masih menghadapi dua tantangan utama, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas dan mengelola perkebunan secara berkelanjutan. Untuk meningkatkan produktivitas dari 3 ton/ha minyak (CPO + PKO) menjadi 5-7 ton/ha, kebun rakyat perlu diremajakan dan petani harus memperbaiki teknis budidaya secara simultan.

Dalam meningkatkan keberlanjutan (ISPO dan sertifikasi RSPO), petani menghadapi permasalahan legalitas lahan, legalitas usaha, akses sertifikasi. Solusinya adalah kebijakan peme rintah, perluasan kemitraan terhadap pencapaian keberlanjutan, dan petani secara kolektif membangun organisasi, dan mengelola perkebunan sawit di satu wilayah dengan model kemitraan.