Categories
Default

Seribu Jalan untuk Pabrik Pakan

Program (Upaya Khusus) Upsus Pajale 2016 memproyeksikan produksi jagung sebesar 23,165 juta ton pipilan kering dengan dukungan anggaran sebesar Rp2,1 triliun. Dari angka produksi tersebut, menurut Gabungan Produsen Makanan Ternak (GPMT), industri pakan ternak membutuhkan 8 juta ton untuk memproduksi 17,2 juta ton pakan. Namun hingga 2016 berlalu, industri masih harus impor jagung sebesar 846.893 ton dan 1.596.000 ton gandum pakan ( feed wheat ) sebagai pengganti jagung.

Fasilitasi Tiga Juta Hektar

Untuk benar-benar mampu mencukupi kebutuhan hulu industri unggas tersebut, pemerintah memberikan fasilitasi (bantuan) kepada petani. “Tahun 2017 kita tingkatkan menjadi 3 juta ha. Sebelumnya hanya 400 ribu ha. Fasilitasi pemerintah untuk benih, pupuk, pestisida, dan pengawalan langsung Upsus,” ungkap Dwi Iswari, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Per tanian (Kementan). Selain itu, masih ada pengembangan jagung di lahan khusus seluas 724 ribu ha. Lahan khusus ini mencakup sela-sela tanaman perkebunan, kawasan hutan, dan lahan lain yang petani mau mengelolanya.

Lebih jauh Dwi mengatakan, Kementan telah meneken nota kesepahaman dengan 41 pabrik pakan ternak. “Ada ikatan bahwa pabrik pakan ternak bersama petani yang kita fasilitasi tadi untuk melakukan pengawalan langsung terkait produksi dan mutu. Diharapkan petani bisa menghasilkan jagung dengan produktivitas tinggi dan mutu yang dikehendaki sehingga impor jagung 2017 sudah tidak ada lagi. Ini harus disukseskan oleh semua pihak,” tandas master lulusan Australia ini pada Seminar Nasional AGRINA Agribusiness Outlook 2017.

Kemitraan Menguntungkan Petani

Aldrian Irvan Kolonas, CEO PT Vasham Kosa Sejahtera, perusahaan kemitraan jagung yang beroperasi di Lampung dan Jawa Tengah, menyambut baik rencana pemerintah tersebut. Vasham menawarkan kemitraan yang berbeda sejak 2014 dengan menyediakan sarana produksi, memberikan pendampingan yang intensif di lapang an, menjemput jagung langsung dari ladang petani berapapun kadar airnya, memproses jagung itu untuk industri pakan ternak, dan memberikan bagi hasil yang menguntungkan kepada petani. “Dengan model seperti itu, Vasham berhasil meningkatkan pendapatan petani rata-rata 30% per tahun. Mulai dari 500-an hektar, tahun 2016 jumlah petani mitra kami mencapai 6.628 orang dengan luasan 6.494 ha dan memberikan dampak sosial bagi 13 ribu keluarga petani,” tutur Irvan. Ia menambahkan, Februari mendatang, Vasham akan melakukan panen raya jagung dengan petani mitra.

Melihat pengalamannya, Irvan menyakinkan pengusaha pakan, “Dengan model-model kemitraan yang sustainable (berkelanjutan) seperti ini, kita bener-bener bisa menjangkau petani. Untung nggak usah banyak-banyak untuk membantu negara dengan membangun petani. Kenapa kita nggak bekerja sama untuk membangun bangsa?” Sementara itu, Setiyono, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) yang hadir dalam seminar mengatakan, pihaknya menemukan mitra pas untuk mengembangkan jagung. Luas kebun anggotanya 134 ribu ha yang secara bertahap akan diremajakan. “Di sela-sela waktu peremajaan, kami sangat ingin menanam jagung. Ini ada mitra off taker (pembeli) yang sangat bagus. Memanfaatkan lahan di sela sawit yang belum menghasilkan itu sangat potensial,” ujarnya sembari mengundang Vasham ke Riau.