Categories
Default

Sosialisasikan Pertanian Berkelanjutan

P rodusen pestisida multinasional, PT Dow AgroSciences Indonesia, meng adakan Dow AgroSciences ASEAN Product Stewardship Day (PSD) 2016 sebagai lokakarya dan sarana me – ngedukasi petani. Dengan tema “Res – ponsible Use for Sustainable Agriculture”, Dow AgroSciences mengajak para pe – mang ku kepentingan bidang pertanian, khususnya petani untuk peduli terhadap kesehatan, keamanan lingkungan, dan pertanian berkelanjutan.

“Kami memiliki tanggung jawab kepada para petani. Salah satu bentuk tanggung jawab kami adalah memberikan pelatihan melalui PSD ini. Stewardship dilakukan dengan pendekatan siklus hidup produk, mulai dari ditemukannya produk kami sampai pembuangannya,” tutur Robin Hu, Commercial Leader PT Dow AgroSciences Indonesia.

Hu mengatakan, Dow AgroSciences ti – dak semata-ma ta menjual produk pestisida, tetapi juga peduli dengan kesehatan para petani. Ka rena itulah setiap tahun Dow AgroSciences di Asia Pasi fik berhenti bekerja sehari untuk bertemu lang sung dengan petani dan memberi kan informasi tentang product stewardship. Di In – donesia PSD 2016 dipusatkan di Balai Pe – nelitian Tanaman Sa yuran (Balitsa) Cikole, Lembang, Ban dung, Jabar, pada 3 No vem – ber 2016. Aca ra semacam itu digelar se – rem pak di 20 tem pat yang berbeda di seluruh Indonesia.

Executive Director Croplife Indonesia, Agung Kurniawan yang turut hadir, menjelaskan, product stewardship dilakukan un tuk membangun kesadaran para pe – tani. Aviantara Budi Prasetyo, ASEAN Mar – ket Sell Leader PT Dow AgroSciences Indonesia, me nimpali, melalui PSD, Dow AgroSciences mengedukasi pe tani atau para pengguna produk pes tisida tentang cara menggunakan produknya secara tepat, bertanggung jawab, dan bijaksana.

Bilas Tiga Kali Dulu

ASEAN Product Stewardship Leader and Regulatory Specialist PT Dow Agro Scien ces Indonesia, Arunika Anggradewi meng – ungkapkan, dari beberapa topik ste ward – ship, Dow AgroSciences memilih to pik memastikan penggunaan pestisida se cara aman dan bertanggung jawab. Mi sal nya, pena nganan kemasan bekas pestisida.

“Penanganan kemasan bekas pestisida bertujuan untuk melindungi lingkungan dan pengguna (petani) dari paparan pes – tisida, menangani kemasan kosong de ngan aman, tepat, mengurangi limbah, serta memastikan kepatuhan terhadap peratur – an yang berlaku,” jelas Arun, panggilannya.

Kemasan bekas pestisida sebaiknya di – rusak dan tidak digunakan kembali serta tidak dibakar karena terkadang bahan aktif pestisidanya mudah terbakar dan dapat meledak. Kemasan bekas pun tidak boleh dicuci di sungai lantaran akanmen – cemari lingkungan.

Sebelum kemasan kosong dirusak, botol wadah pestisida dibilas tiga kali agar pes – tisida benar-benar tidak bersisa. Caranya, masukkan air bersih 10%-20% dari kapasitas botol, lalu botol ditutup rapat, dikocok, kemudian airnya dituang kan ke da – lam tangki semprot sampai tidak menetes lagi. “Setelah tiga kali bilas resi dunya be – nar-benar tidak tersisa,” tandas Arun. Se – lain itu, botol pestisida yang su dah ko – song sebaiknya dirusak dan tidak dijual kembali karena dikhawatirkan menjadi sarana pemalsuan produk.

Dalam acara itu Dow AgroSciences juga melakukan memberikan pelatihan kalibrasi alat semprot, penggunaan alat pelindung diri (APD), perbaikan tangki pe nyem protan serta cara membedakan produk pestida asli atau palsu. Dow Agro Scien ces juga meng – iming-imingi petani agar mau membawa tiga botol pestisida bekas untuk ditukarkan dengan sebuah nozel.***