Categories
Agraria

Tak Perlu Alergi Dengan Tanaman Biotek

Tidak ada perbedaan secara fisik antara tanaman Produk Reka yasa Genetika (PRG) atau yang biasa disebut tanaman transgenik de ngan tanaman biasa pada umumnya. Begitu juga nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Kandungan sifat yang di tambahkan ke dalamnya berupa pro tein dengan nilai sangat kecil dan bisa diabaikan. “Sebelum dilepas resmi ke pasar itu dicek kadar gizinya, apakah setara atau tidak.

Bentuk dan agronomi ta nam an harus sama dengan tanaman konvensional. Tidak boleh berubah. Ke cuali sifat yang memang ditam bah kan ke dalamnya, seperti tahan her bisida,” ungkap Desmarwansyah, Bio tech & Seed Director Croplife Indo nesia saat dihubungi AGRINA, Rabu (24/1).

Diadopsi Banyak Negara

Produk bioteknologi, lanjut Desmar wansyah, sudah berjalan selama 21 tahun di dunia dan diadopsi oleh ber bagai negara. Banyaknya negara yang mengadopsi produk bioteknologi lan taran terus meningkatnya kebutuhan manusia akan pangan.

Direktur Ek sekutif Croplife Indonesia Agung Kur niawan menambahkan, kebutuhan yang banyak tersebut belum semua nya dapat terpenuhi karena makin menyempitnya lahan dan tantangan lain yang belum terselesaikan. Menurut Agung, teknologi dan ino vasi di sektor pertanian diperlukan untuk memaksimalkan produksi dari la han yang ada.

Petani bisa meman fa at kan bioteknologi guna mendong krak hasil pertaniannya. “Untuk mengejar target secara ekstensif, bio teknologi merupakan jawaban inten si fikasi yang paling kuat. Selain itu, bio tek nologi mampu mengatasi potensi krisis pangan di masa datang,” tandasnya. Sementara itu Bambang Purwantara, Direktur Indonesian Biotechnology In for mation Centre (IndoBIC), menyebutkan, saat ini sudah 30 negara membudidayakan tanaman biotek nologi dengan tingkat adopsi yang te rus menanjak.

Di dalam negeri, ujar Bam bang, bioteknologi terus meng alami perkembangan, baik dari segi riset maupun pengembangan. Bebe rapa varietas masih dalam proses uji untuk dilepas ke pasar. Senada dengan Bambang, Rhodora R. Aldemita, Senior Program Officer International Service for The Acqui sition of Agri-Biotech Applications (ISAAA) memaparkan, tanaman PRG mengalami banyak perkembangan pada 2016 secara global.

Berdasarkan data ISAAA, pada Mei 2016 tanaman PRG tumbuh di lahan seluas 185,1 juta ha yang tersebar di berbagai negara. Hal ini menunjukkan peningkatan luas lahan dari tahun sebelumnya seluas 179,7 juta ha. Menurut Aldemita, bioteknologi telah membantu mengurangi kemis kinan dan kelaparan, serta memberi manfaat kepada 18 juta petani kecil.

Tak mengherankan bioteknologi men jadi teknologi pertanian yang cepat diadopsi petani. Rosalie Ellasus, petani jagung transgenik asal Filipina, meng amini, hasil yang menjanjikan dari tanaman bioteknologi bisa terealisasi asalkan petani berani untuk memulai menanamnya. Selain mudah dalam perawatan, produk bioteknologi juga aman dikonsumsi lantaran tidak ba nyak membutuhkan aplikasi pestisida.

Beberapa negara di Asia Tenggara, jabar Aldemita, potensial mengadopsi tanaman PRG sambil menyusun peraturan keamanan hayati. Indo ne sia, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Filipina sedang berjuang untuk menyusun peraturan. Terutama Indonesia yang masih bergulat di peraturan terkait benih bioteknologi.

Lulus Serangkaian Uji

Kekhawatiran akan bahaya tanaman bioteknologi muncul akibat banyak nya kabar tanpa diikuti bukti ilmiah yang kuat. Bambang menegaskan, tak perlu khawatir akan komponen yang membahayakan kesehatan dan ling kungan.

Pasalnya, produk biotekno logi adalah produk yang proses pro duksinya paling panjang dan detail. Banyak syarat yang harus dipenuhi agar produk tersebut dinyatakan lulus sebagai PRG. “DIlihat runutan prosesnya, uji pro duk ini paling detail. Bahkan sampai ada yang belasan tahun. Sebagai sebuah produk, ujinya itu dipelototin be tul dan sangat ketat.

Kalau ada implikasi terhadap kesehatan pasti tidak akan lulus,” tandasnya. Desmarwansyah menimpali, untuk menjadi sebuah produk bioteknologi, benih tanaman harus memenuhi sya rat aman pangan, aman pakan, dan aman lingkungan. Tanaman yang su dah disetujui pasti memiliki kandung an gizi sama dengan tanaman konvensional, hanya ada perbedaan dari sifat apa yang ditambahkan ke dalamnya.

Di Indonesia, pengkajian dan eva luasi terhadap PRG dilakukan para pa kar yang tergabung dalam Komisi Keamanan Hayati (KKH) dan dibantu Tim Teknis Keamanan Hayati (TTKH). Kajian teknis yang dilakukan sangat menyeluruh, menyangkut as pek lingkungan dan manusia serta makh luk hidup lainnya.

Kajian juga dilakukan dengan sangat teliti dan hati-hati. Bila semua sudah dipastikan aman, maka PRG yang didaftarkan akan mendapatkan sertifikat keaman an pangan, lingkungan, dan pakan.