Categories
Agraria

Virus Kerdil Mengancam Swasembada

“Indonesia telah mencapai swasembada beras selama tiga tahun berturut-turut,” ucap Amran pada Rakor Gabungan Ketahanan Pangan dan Evaluasi Upsus 2017 di Kementan, Jakarta (3/1). Menurutnya, hal ini merupakan sejarah baru karena Indonesia pernah swasembada pada 1984 dan menerima penghargaan dari FAO. Amran mengungkapkan, kini setiap hari selalu ada panen di Indonesia.

“Tiada hari tanpa tanam, tiada hari tanpa panen,” paparnya ke publik. Ini para digma baru. Selama 70 tahun selalu ada paceklik tiap November, Desember, dan Januari. Biasanya, pada bulan-bulan tersebut harga selalu bergejolak. “Kita lihat harga 2017 masih bagus,” cetus Mentan. Menurutnya, dengan segala daya dan upaya, paceklik bisa dihapuskan.

Pemerintah telah mendukung pembangunan embung, irigasi, dam, dan pompanisasi dari sungai. Mekanisasi juga berkontribusi untuk mempercepat tanam dan panen. Yang terpenting, ujar Amran, selama dua tahun dan akan masuk tahun ketiga, tidak ada beras luar negeri yang masuk wilayah Indonesia. “Memang pahit karena banyak yang tidak setuju. Itu karena mereka tidak mengerti paradigma baru pertanian,” paparnya.

Dilema

Di balik riuhnya klaim swasembada beras, para petani berjuang keras untuk bertani padi. Data lapangan, ada sekitar 780 ribu ha padi terserang virus kerdil yang dibawa wereng cokelat sepanjang 2017. Mewabahnya serangan virus yang petani biasa menyebutnya klowor atau mejen disinyalir karena pola penanaman padi dengan IP300.

“Sebenarnya dilematis juga, di satu sisi pemerintah ingin mempercepat tanam sampai IP300. Sementara itu, eko sistem nya belum siap,” terang Dudy Kristyanto, Marketing Manager PT Bina Guna Kimia saat berbincang dengan AGRINA di kantornya, Jakarta (3/1). Menurut Dudy, ada satu permasalahan, yaitu kurangnya pengetahuan petani.

“Kalau tanaman padi “terbakar” pasti sudah ketahuan tidak akan panen. Sedangkan padi yang mejen tetap warna nya masih hijau, petani masih berharap mendapatkan hasil. Jadi terus dipupuk,” terangnya. Padahal, sambung Dudy, kalau sudah mejen (kerdil rumput atau kerdil hampa) pasti tidak akan tumbuh dan tidak keluar malainya. Jadinya malah buang-buang uang jika tetap dipupuk.

Menurut alumnus IPB tersebut, sejauh ini ekosistem sedang tidak seimbang. Tanaman padi yang kurang hijau, langsung ditambah pupuk kimia. Aplikasi pupuk organik kurang, Tidak ada rotasi tanaman. “Kalau tidak ada rotasi tanaman artinya tidak memutus siklus hama penyakit,” jelasnya. Selain rotasi tanaman, rotasi bahan aktif insektisida juga penting untuk manajemen resistensi. Dudy memprediksi, pada 2018 serangan wereng cokelat dan klowor akan meningkat.

Biasanya, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara tidak ada serangan klowor, tapi ia sendiri menyaksikan ada serangan di sana. “Mungkin salah satu penyebarannya karena badai yang belakangan ini sering terjadi menerbangkan wereng cokelat sampai ratusan kilometer jauhnya,” ungkapnya. Di lain kesempatan, Budi Widodo, Technical & Marketing Manager PT Agricon Indonesia mengungkapkan hal serupa.

“Karena pola tanam intensif, tanah tidak bisa istirahat,” ujarnya. Imbasnya, tanah cenderung masam karena dipupuk terus-menerus. Bisa jadi, tanah kekurangan unsur mikro sehingga unsur hara tidak bisa terserap ke dalam tanah. Selain itu, sambung Budi, kondisi iklim dengan musim kemarau sedikit membuat tanaman terus ada di lahan, menyebabkan siklus hama tidak terputus. Akibatnya, intensitas serangan semakin tinggi.

“Serangan hama memang sangat didukung oleh kondisi lingkungan,” imbuhnya. Ia memprediksi, kondisi 2018 agak ekstrem karena pengaruh musim sehingga petani harus bersiap-siap.

Curhat Petani

Di Desa Parigimulya, Cipunagara, Subang, kasus gagal panen akibat serangan klowor mencapai 75%. Panen dikatakan gagal karena dari satu hektar lahan hanya menghasilkan 5 karung atau setara 2,3 kuintal. Mastam, Ketua Gapoktan Sri Tani di Subang mengungkapkan, 2017 merupakan tahun terparah dan terpuruk. “Sekarang rata-rata hanya dapat 5 kuintal/ha.

Kalau dapat 3,5 ton/ha sudah sangat bagus,” ungkapnya saat ditemui AGRINA di BB Padi Sukamandi, Subang (30/11). Serangan wereng, lanjut petani yang memiliki sawah seluas 2 ha itu, datang bertubi-tubi sejak 2016. Petani panik dan bingung karena berbagai macam produk pestisida sudah digunakan tapi serangan masih banyak.

Karena sudah keluar banyak uang, akhirnya petani menggunakan solar dan oli. “Me mang tidak dianjurkan dan mencemari lingkungan. Tapi apa boleh buat? Itu jalan pintasnya,” ujar Mastam. Petani yang sudah bertani sejak 1990 tersebut menjelaskan, pada 2016 varietas ciherang bisa panen 7- 7,5 ton/ha dan ketan dapat 8,4 ton/ha.

Sedangkan 2017, tiga dari 16 kelompok tani yang ada di desa tersebut, mengalami gagal total atau puso. Masih menurut Mastam, serangan wereng membludak karena pola bercocok tanam yang tidak serempak. “Saya sudah himbau jangan tanam tiga kali, tapi ada satu anggota yang maksa tetap tanam. Kalau tidak garap, ia tidak punya penghasilan. Jadi saya persilakan saja, saya hanya menghimbau,” katanya.

Tapi kebetulan, petani yang tanam sendiri ini sangat beruntung karena hasil panennya bagus. “Saya juga kaget, cuaca dan ha ma sangat tidak bisa diprediksi,” imbuhnya. Mastam mengaku keuntungan dari hasil panen padi tahun ini sa ngat pas-pasan. Ia dan keluarganya masih bisa bertahan karena menyimpan hasil panen yang disisihkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kenaikan biaya listrik, gas, diakui sangat memberatkan dengan keadaannya saat ini. “Dengan penghasilan yang tidak menentu, saya sebagai petani merasa terbebani,” curhatnya. Meskipun kondisi bertanam padi sedang sulit, Mastam tetap menghimbau para petani untuk bertahan. “Tapi tergantung pendirian masing-masing. Ada yang terus menggeluti pertanian, ada yang beralih jadi pedagang,” ungkapnya.

Malahan, alih lahan sebagai kawasan industri yang dulu sempat ditentang, kini malah masyarakat yang mencari operator atau calo untuk jual tanahnya. Alasannya, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. “Kalau yang gajian masih bisa mengandalkan penghasilan bulanan. Tapi kalau petani gagal panen ya jual tanah,” ujarnya prihatin.