Categories
Default

Waspada OPT Saat Iklim Normal

Menurut Aris Pramudia, Peneliti Bidang Agroklimatologi Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, sejak Februari 2017, Indonesia sudah memasuki kondisi iklim normal. “Sehingga, kita prediksi di musim kemarau yang akan datang, MK (musim kemarau) 2017 itu kondisinya juga normal,” ujarnya kepada AGRINA. Meski begitu, ulas Aris, iklim di Bumi Pertiwi memiliki corak yang berbeda-beda di setiap daerah. Bagai mana pengaruhnya dengan sebaran Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) padi?

Prediksi Iklim dan Dampaknya

Melihat pola curah hujan, Aris menjelaskan, wilayah Sumatera bagian utara, seperti Aceh, Sumut, Riau, dan Sumbar umumnya memiliki curah hujan pola ekuatorial, yaitu mengalami dua kali periode basah dan dua kali periode kering. “Pada Februari biasanya mengalami penurunan intensitas curah hujan dulu tapi April naik lagi. Biasanya Sumut dan Aceh sudah mulai kemarau Februari-Maret tapi sebentar ada hujan lagi,” ucapnya. Sumatera bagian selatan seperti Sumsel dan Lampung, Jawa, Nusa Tenggara, Sulsel bagian selatan, dan sebagian pesisir Kalimantan pola curah hujannya monsunal, yakni mengalami satu periode basah dan satu periode kering. “Mulai basah September-Oktober dan mulai kering April-Mei. Tapi ini tidak rata, di Nusa Tenggara biasanya Maret-April sudah lebih dulu kemarau dibandingkan Jawa,” imbuh Aris. Curah hujan Kalimantan relatif lebih tinggi daripada daerah lain. Bahkan, ada yang basah sepanjang tahun sehingga susah ditentukan kapan musim kemaraunya.

Pantai barat dan pantai timur Suls el memiliki pola curah hujan berbeda. Pantai barat musim hujannya saat Desember-Januari, sedangkan pantai timur musim hujannya berlangsung pada Juni-Juli. Sulteng sampai ke Gorontalo, curah hujannya tidak stabil. Seperti Kalbar, wilayah ini masuk dalam non zona musim karena sulit diprediksi. “Maluku ada yang polanya monsunal, ekuatorial, dan lokal. Lokal itu puncak hujannya Juni-Juli. Desember-Januari justru kering. Papua secara umum memiliki curah hujan tertinggi di Indonesia, ma kanya di Papua juga ada daerah di luar zona musim,” te rangnya. Dengan perbedaan kehadiran awal musim kemarau, kemunculan OPT utama padi antardaerah akan berbeda-beda.

Prediksi OPT

Ruswandi, Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) mengungkap, pada mu sim tanam Oktober-Maret 2016/ 2017, prediksi serangan OPT terbesar berturut-turut tikus mencapai 30.849 ha, kresek atau hawar daun bakteri (bacterial leaf blight, BLB) 26.649 ha, penggerek batang padi (PBP) 26.164 ha, blas 19.224 ha, dan wereng batang cokelat (WBC) 16.984 ha. Dibandingkan musim tanam AprilSeptember 2016, serangan WBC dan BLB ditaksir akan meningkat. Menurut Ruswandi, kondisi ini lantaran tingginya kejadian serangan WBC dan BLB pada 2016 yang mencapai 13.250 ha dan 21.16 ha. Sementara, ungkapnya, prediksi OPT AprilSeptember 2017 perlu memperhitungkan kejadian riil serangan OPT pada MT 2016/2017.

Meski begitu, ia meminta petani waspada terhadap tikus dan PBP yang tidak terpengaruh perubahan cuaca. Menurut Bayu Nugroho, Nasional Marketing Manager PT Dow AgroScience Indonesia, khusus daerah pantai utara Jabar seperti Karawang dan Subang akan selalu menghadapi serangan penggerek batang. “Nomor satu itu karena kontribusi nyaris 50% terhadap total permasalahan hama dan penyakit di padi. Untuk tahun ini trennya penggerek,” ungkapnya. Bayu menambahkan, perubahan iklim berpe ngaruh pada tingkat serangan OPT. “Dari trennya, musim ini serangan penggerek batang meningkat. Tahun kemarin blas banyak tapi tahun in tidak se tinggi tahun kemarin. Itu karena efek La Nina yang cenderung basah, lem bap. Nah tahun ini pre diksinya rata-rata normal, ya penggerek batang yang lebih banyak,” urainya.

Mastam, Ketua Gapoktan Sri Tani di Subang mem benarkan. Tanaman padi di wilayahnya banyak yang terserang WBC dan sundep alias PBP yang menyerang di umur muda. “Di sini hamanya bereng (wereng) sama sundep ada pada tandur (tanam) umur 30 hari. Sekarang mayoritas setiap blok itu bereng hamanya, nyerang Grendel (padi ketan) dan Ciherang. Tapi paling berat Grendel, bisa sampai tiga kali penyemprotan kalau ada bereng,” terangnya kepada AGRINA.